Wednesday, August 1, 2012

Keterampilan menyulam dan bordir

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu mengatakan kriya sulam di Indonesia bukan semata ada, tetapi terus berkembang dengan kreativitas yang tak ada matinya. “Tangan perempuan tak bisa diam. Kapan ada waktu senggang, mereka menyulam,” tutunya dalam acara yang sama. Menurutnya, tradisi di Indonesia, termasuk menyulam, adalah sesuatu yang hidup dan berkembang, bukan sesuatu yang sudah punah lalu berusaha untuk dibangkitkan melalui berbagai cara.

Karenanya, melestarikan sulam sebagai warisan budaya sama dengan menjaga bahan baku yang dapat dikembangkan pelaku ekonomi kreatif dengan berbagai cara. Seperti mengembangkan sulam menjadi produk yang bisa dipakai sehari-hari, melestarikannya dengan memberikan apresiasi pada perajin, juga memberikan pengetahuan secara turun temurun dari usia dini agar sulam tetap lestari.

“Saya ingat dulu, ibu saya rajin menyulam dan membuat bordir. Sementara saat kecil saya tomboy, lebih suka naik pohon daripada mengikuti saran ibu untuk menyulam. Saya tidak mau belajar menyulam saat kecil, dan sekarang saya menyesal,” kisahnya.

Ibu Negara pun memiliki kisah serupa, sulam menjadi pelajaran keterampilan wajib dalam keluarga, dengan orangtua sebagai gurunya. “Ibu dan sekolah mengharuskan saya belajar menjahit dan menyulam. Saya ingat kelas 6 SD, saya harus mengikuti ujian akhir prakarya, diminta membuat bantal dijahit dengan motif kotak catur, dan itu tidak mudah, saya harus melakukannya berulang-ulang hingga akhirnya lulus ujian,” tututrnya.

Berbagai kisah ini menjadi bukti betapa sulam sebenarnya sudah lama memasyarakat. Keterampilan keputrian, begitulah masyarakat tradisional menyebut kegiatan kreatif termasuk menyulam, yang tujuannya memberikan bekal pada perempuan dalam berumah tangga. Sederhana pesan dan maknanya, dan nyatanya sulam memang mampu menjadi bekal perempuan memberikan kontribusi finansial terhadap rumah tangga.

“Sulam nusantara terkesan kurang percaya diri untuk berkembang, tidak seperti batik yang kini menjadi budaya baru bahkan fashion. Saya berharap sulam menuju ke sana. Menjadi virus budaya dan lifestyle. Ini menjadi tantangannya, bagaimana meningkatkan image sulam, meningkatkan inovasi dan kreativitas, menciptakan karya baru dengan nilai tambah, sehingga membuka peluang lebih besar untuk menarik minat,” jelas Ani.

Sulam telah lama menjadi kultur dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dan semestinya sulam berhak mendapatkan apresiasi dan pencitraan yang lebih baik. Ani menambahkan, buku Adikriya Sulam Nusantara dapat menjadi panggilan untuk semua pihak termasuk seniman Indonesia dalam memaknai sulam sebagai karya seni, bukan sekadar hiasan pelengkap.

“Di masa jayanya dulu, sulam sudah menjadi lifestyle. Kini sulam terkesan hanya kegiatan kaum ibu dan nenek. Jika generasi muda terputus dengan sulam, masa depan sulam mengkhawatirkan,” ungkapnya.

source : http://www.sulam-bordir.com/